“Bukan lautan hanya kolam susu,
kail dan jala cukup menghidupimu” sepenggal lagu yang menggambarkan bahwa
betapa kayanya Negara ini akan sumber daya alam. Kita masih ingat banyak negara
di seluruh dunia yang mengincar tanah surga ini, tapi dengan semangat pantang
menyerah para pahlawan melawan mereka semua, para pahlawan dengan gagah berani
menjaga seluruh tanah surga ini agar anak cucunya bisa merasakan akan kayanya
sumber daya alam di Negara ini. Dan akhirnya para pahlawan berhasil mengusir
mereka semua.
Tapi
sungguh sangat disayangkan, cita-cita yang tulus para pahlawan ternyata belum
bisa terealsasi sampai sekarang, padahal sudah lebih dari 67 tahun negara ini
merdeka. Bisa dibayangkan tanah Papua yang memiliki begitu banyak emas
ditanahnya ternyata menjadi tempat yang tersering dalam hal kelaparan,
kesejahteraan mereka dipertanyakan, dan kualitas kesehatan meraka pun sangat
kurang.
Pemimpin
negara ini yang seharusnya bisa memanfaatkan seluruh kekayaan ini untuk
kesejahteraan rakyatnya, ternyata hanya diam saja. Mereka membiarkan seluruh
orang asing mengambil sesukanya tanpa hambatas sekalipun, dan yang lebih parah
lagi negara ini hanya kebagian sedikit lagi hasilnya, dan kebagian banyak
sekali limbahnya.
Kami
bingung, kami semua bingung. Siapa yang patut disalahkan atas ini semua?.
Secara tidak langsung para pemimpin Negara ini telah mengkhianati para pahlawan
yang telah berjuang demi untuk menjaga tanah surga ini.
Wahai
para pemimpin yang seharusnya bijaksana, dengarkan rintihan rakyatmu, jangan
hanya mendengarkan nafsumu belaka. Kekayaan alam yang seharusnya seluruh rakyat
Indonesia rasakan hanyalah menjadi mimpi belaka. Dan perjuangan para pahlawan
pun menjadi sia-sia pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar